Saat tak dapat percaya
Ada saatnya bahkan seorang ‘musuh’ lebih baik daripada sahabat sendiri.Minimal dia tak pernah ingkar padaku.Apa yang ditunjukkannya padaku adalah jujur,ketaksukaannya padaku,bahkan kebenciannya setidaknya membuatku paham,agar lebih berhati-hati dalam berkata maupun berkata.
Punya ‘musuh’ (baca:orang yang jelas-jelas menunjukkan ketaksukaannya padaku) memang tidak enak.Tapi jauh lebih menyakitkan memiliki dia yang mengaku teman,atau bahkan sahabat,yang tak sungkan menyakiti hati yang memang sangat rentan ini.
Mungkin ia tak menyadarinya.Bisa juga ia tahu tapi menganggap ‘its okey’ saja…toh teman harus saling memahami.
Hey,itu benar!Dimana-mana hubungan harus dilandasi saling memahami, kalau nggak bisa kacau!!Tapi…alangkah naifnya dirimu ’sobat’ bila masih mengaku "sahabat" sedangkan sudah berulangkali kau sakiti hati ini….(duhhhhh puitisnya…)
Dirimu bagaikan si buta yang mencoba menyeberang jalan di Khatib Sulaiman hari Senin pagi tanpa dituntun!!! Yah..akibatnya tabrakan.Ajaibnya dirimu tak luka,tapi si pengendara yang parah,mobilnya rusak,kepalanya benjol,badan memar,bahkan harus berurusan dengan polisi karena nabrak pembatas jalan berusaha menghindari kecelakaan itu!!!!
Maaf ’sobat’….. aku gak mau jadi "si pengendara" itu.
Jangan sebut dirimu sahabat bila tak paham hati sahabamu.
Jangan sebut dirimu sahabat bila menyenangkan hatinya pun kau tak bisa.jangan sebut dirimu sahabat bila menyokongnya juga kau tak mampu,keluhnya tak kau tanggapi,senangnya kau acuhkan……..
Berteman sajalah dulu.
Belajar menjadi teman,teman yang baik….teman yang menyenangkan..tapi bukan sahabat,karena bagiku arti sahabat begitu dalam….
Ia yang dapat kupercaya
Ia yang padanya kubersandar
ia yang percaya padaku
ia yang juga bersandar padaku
Kami cukup saling memahami, tanpa perlu banyak berkata…