Victory needs Victims

Untuk mencapai impian butuh pengorbanan.

Oke.

Untuk mencapai impian butuh korban.

Mmm ?

Untuk mencapai impian butuh korban-koban.

Hah?

Untuk mencapai impian butuh korban-korban.

Korban ? Sapi? Kambing? Lebaran haji yah?!

Haha… lucu, kau kira ya?

Tapi jadi tak lucu kalau kau baca kisah berikut. Mungkin sudah pernah bahkan sering didengar. Sampai terkesan klise. Tapi tak apalah! Sebagai pengingat sebelum alpa.

Namanya Soya. Seorang anak muda penuh semangat, cita-cita, dan ambisi sekaligus idealisme khas anak muda. Ibarat kue baru keluar dari oven. Anget-anget.

Dia baru lulus SMU favorit di kotanya, dengan nilai lumayan memuaskan. Dan keterima di salah satu PTN bergengsi di luar pulau. Wah, bangga dong! Apalagi orangtuanya.

Sudah terbayang masa depan yang cerah bagi anaknya, dan harapan kelak dia bisa membahagiakan mereka di haru tua nanti. Tapi tak urung petuah,agar senantiasa memohon petunjuk dan perlindungan hanya pada-Nya,diberikan pada anak tercinta. Berikut bekal materi dan nasehat-nasehat laen yang "ortu buanget!"Dan berangkatlah Soya menuju negri perjuangan, kawah candradimuka.

Singkat cerita,empat tahun pun dilaluinya dengan gemilang. Bukan berarti tanpa hambatan. Tapi selalu dapat dilaluinya dengan mudah, adakalanya dengan susah payah. Semuanya jadi kenangan pemacu semangat untuk hari nanti, batinnya optimis.

Setelah empat tahun, adakah yang berubah pada diri Soya?

Pasti ada. Manusia itu bergerak dinamis, senantiasa beradaptasi dengan lingkungannya. Jadi Soya anak sekolahan beda dengan Soya (eks)mahasiswa. Sekarang, Soya adalah Soya yang lebih dinamis, berpandangan luas, dan lebih "toleran" dengan keadaan.

Salah satu bentuk toleransi Soya dewasa ya ini :

"Bukannya kita harus siap berkompromi dengan keadaan kan?" batin Soya ketika ia ditawari pekerjaan bergengsi, tapi dengan persyaratan yang kalau dulu bakal ditolaknya mentah-mentah!

Ya, Soya si muslimah penuh semangat itu diharuskan melepaskan jilbabnya karena dikhawatirkan (katanya!) bakal menghambat kinerjanya nanti. Maklum, kliennya banyak orang asing. Dan pendapat mereka tentang muslim itu kurang baik (Kata Siapa?!!). Itu salah satu alasan si bos, segabrek yang lain masih ada.

Yah….Soya berkompromi. Dan pekerjaannya sukses, penghasilan melimpah, kebanggaan didapat karna dalam usia semuda itu sudah sukses. Kata tetangga-tetangga di kampung. Bangga dong ortunya Soya?!

Ya…iya sih. Tapi….

"Sedih juga, tuh anak jadi keduniawian terus. Akhirat nya keteteran. Khawatir ibu, pak!", keluh ibu Soya pada suaminya.

"Anak itu kan sudah besar, Bu. Sudah bisa bertanggungjawab pada dirinya sendiri. Ibu jangan terlalu khawatir, dia kan nggak pernah berbuat aneh-aneh." jawab Bapak.

"Tapi tetap saja, Pak. Kewajiban utama itu pada Allah. Bukan mengejar target, yang tak habis-habisnya. Coba deh Bapak bilang sama Soya." bilang Ibu lagi.

"Lah ibu saja yang bilang kenapa?" hindar Bapak.

"Dia kan lebih manut omongan Bapak. Kalau sama ibu susah, ada aja jawabnya. Bapak ajalah yang bilang! Ya Pak?! Ya?!" tuntut Ibu.

"Iya, iya. Nanti bapak bilangin." kata Bapak akhirnya.

Dan apa jawab Soya ketika dinasihati Bapak tentang urusan dunia-akhirat itu?

" Pak, bukannya setiap impian, cita-cita itu butuh pengorbanan? Besarnya kesuksesan yang didapat itu berbanding lurus dengan pengorbanan yang dilakukan. Soya cuma ngelakuin hal itu kok. Soya cuma bekerja lebih lama dari orang lain di kantor ini, makanya Soya bisa dapat posisi ini sekarang."

"Lagian Pak, Soya tetep Salat kok walau sering telat, tetep puasa, tetep zakat. Apalagi? Soya tetep inget kok kalau Tuhan itu ada."

"Tapi nak, coba lihat diri kamu sekarang. Jilbab kamu lepas. Sama tetangga gak ramah. Gak sungkan-sungkan menghalalkan segala cara untuk dapatin yang kamu mau…"

"Pak! Kok masalah itu diungkit-ungkit lagi! Sudah lama. Itu cuma bentuk pengorbanan Soya supaya bisa dapat pekerjaan ini. Lagian cuma pakaian kok, Pak! Apa gunanya kalo ketutup tapi hatinya busuk! Banyak kok yang begitu di sekitar Soya…bla…bla…bla…"

Astaghfirullah! Itukah yang namanya pengorbanan?

Menggapai impian itu memang butuh pengorbanan.

Tapi, membuang perintah-Nya dengan alasan pengorbanan untuk hal yang fana. Lantas menghujat saudara sendiri sebagai pembenaran. Bukan pengorbanan itu namanya. Tapi kesombongan.

Kalau yang "ketutup" itu busuk, bantu dong supaya wangi! Jangan malah "dibuka", nyebar kemana-mana baunya nanti. Malah mencemari wangi-wangi yang lain! Lagian, emangnya bungkus tape?!

Ah, esmosi gw jadinya!

Leave a Reply