Archive for December, 2006

Kamoshika; PNS kereeen!!

Sunday, December 24th, 2006

Hoho, nemu lagi komik "baguuusss!". Sudah lama daku pengen nulisin tentang komik satu ini. Tapi belum sempat dan masih penasaran endingnya.

Ternyata penantianku tak terlalu lama hoho…! Cukup sampe jilid 6 dan tamat! Eng ing eng…

Sunday_kamoshika

Kamoshika by Muraeda Kenichi

Nih komik nyeritain tentang pemuda penuh semangat, baru lulus SMU. Ia diterima menjadi PNS di kantor walikota Sakaue, di Divisi Manuver Khusus. Wow. keren! Dari namanya gimana….gituh!

Tapi nyatanya, ini divisi yang lebih sering nganggur. Ya, mo gimana lagi, segala kerjaan sudah ada divisi lain yang menangani. Terima gaji buta, kalo istilah disini.

Nah, si Sanpei tokoh kita ini ngerasa gak tenang. Jiwanya memberontak (hoho!). Soalnya dia ngerasa bakal ngerjain hal-hal yang keren, eh nyatanya malah bengong seharian.

Apa tindakan Sanpei?

Well, inilah hebatnya dia. Kebanyakan orang (mungkin) gak mau ambil pusing. "Toh gak ngerjain apapun bakal terima duit, ngapain musti repot-repot?" Sanpei malah nyari kerjaan sendiri. Dia ngebongkar selokan sepanjang kota untuk menemukan Kira si kura-kura milik seorang anak kecil. Kemudian memperbaiki selokan tsb lagi.

Kurang kerjaan yah? Tapi itulah Sanpei. Dan tindakannya malah menginspirasi walikota yang nyentrik untuk membentuk Divisi Kamoshika.

Kamoshika berarti rusa, tapi dari kanjinya bisa diartikan kira-kira begini:

Kalau ada pekerjaan sulit, hanya dan hanya Kamoshika yang bisa mengerjakan. (gak persisi begono dah!)

Dan dimulai lah hari-hari Sanpei Momokuri di kota Sakaue yang sangat disukainya. Berbagai masalah datang, yang dihadapi Sanpei dengan kepolosan dan kebaikan hatinya.

Rasanya tokoh Sanpei ini belum pernah lah kutemui di sekitar. Apa memang masih ada orang seperti Sanpei ya? Salut deh sama Sensei Muraeda Kenichi! Memang dq baru baca satu komik beliau. Pernah lihat yang lain, judulnya Outfield. Mungkin lain kali. Yah, bertambah lagi satu pengarang favoritku ^_^

Victory needs Victims

Sunday, December 24th, 2006

Untuk mencapai impian butuh pengorbanan.

Oke.

Untuk mencapai impian butuh korban.

Mmm ?

Untuk mencapai impian butuh korban-koban.

Hah?

Untuk mencapai impian butuh korban-korban.

Korban ? Sapi? Kambing? Lebaran haji yah?!

Haha… lucu, kau kira ya?

Tapi jadi tak lucu kalau kau baca kisah berikut. Mungkin sudah pernah bahkan sering didengar. Sampai terkesan klise. Tapi tak apalah! Sebagai pengingat sebelum alpa.

Namanya Soya. Seorang anak muda penuh semangat, cita-cita, dan ambisi sekaligus idealisme khas anak muda. Ibarat kue baru keluar dari oven. Anget-anget.

Dia baru lulus SMU favorit di kotanya, dengan nilai lumayan memuaskan. Dan keterima di salah satu PTN bergengsi di luar pulau. Wah, bangga dong! Apalagi orangtuanya.

Sudah terbayang masa depan yang cerah bagi anaknya, dan harapan kelak dia bisa membahagiakan mereka di haru tua nanti. Tapi tak urung petuah,agar senantiasa memohon petunjuk dan perlindungan hanya pada-Nya,diberikan pada anak tercinta. Berikut bekal materi dan nasehat-nasehat laen yang "ortu buanget!"Dan berangkatlah Soya menuju negri perjuangan, kawah candradimuka.

Singkat cerita,empat tahun pun dilaluinya dengan gemilang. Bukan berarti tanpa hambatan. Tapi selalu dapat dilaluinya dengan mudah, adakalanya dengan susah payah. Semuanya jadi kenangan pemacu semangat untuk hari nanti, batinnya optimis.

Setelah empat tahun, adakah yang berubah pada diri Soya?

Pasti ada. Manusia itu bergerak dinamis, senantiasa beradaptasi dengan lingkungannya. Jadi Soya anak sekolahan beda dengan Soya (eks)mahasiswa. Sekarang, Soya adalah Soya yang lebih dinamis, berpandangan luas, dan lebih "toleran" dengan keadaan.

Salah satu bentuk toleransi Soya dewasa ya ini :

"Bukannya kita harus siap berkompromi dengan keadaan kan?" batin Soya ketika ia ditawari pekerjaan bergengsi, tapi dengan persyaratan yang kalau dulu bakal ditolaknya mentah-mentah!

Ya, Soya si muslimah penuh semangat itu diharuskan melepaskan jilbabnya karena dikhawatirkan (katanya!) bakal menghambat kinerjanya nanti. Maklum, kliennya banyak orang asing. Dan pendapat mereka tentang muslim itu kurang baik (Kata Siapa?!!). Itu salah satu alasan si bos, segabrek yang lain masih ada.

Yah….Soya berkompromi. Dan pekerjaannya sukses, penghasilan melimpah, kebanggaan didapat karna dalam usia semuda itu sudah sukses. Kata tetangga-tetangga di kampung. Bangga dong ortunya Soya?!

Ya…iya sih. Tapi….

"Sedih juga, tuh anak jadi keduniawian terus. Akhirat nya keteteran. Khawatir ibu, pak!", keluh ibu Soya pada suaminya.

"Anak itu kan sudah besar, Bu. Sudah bisa bertanggungjawab pada dirinya sendiri. Ibu jangan terlalu khawatir, dia kan nggak pernah berbuat aneh-aneh." jawab Bapak.

"Tapi tetap saja, Pak. Kewajiban utama itu pada Allah. Bukan mengejar target, yang tak habis-habisnya. Coba deh Bapak bilang sama Soya." bilang Ibu lagi.

"Lah ibu saja yang bilang kenapa?" hindar Bapak.

"Dia kan lebih manut omongan Bapak. Kalau sama ibu susah, ada aja jawabnya. Bapak ajalah yang bilang! Ya Pak?! Ya?!" tuntut Ibu.

"Iya, iya. Nanti bapak bilangin." kata Bapak akhirnya.

Dan apa jawab Soya ketika dinasihati Bapak tentang urusan dunia-akhirat itu?

" Pak, bukannya setiap impian, cita-cita itu butuh pengorbanan? Besarnya kesuksesan yang didapat itu berbanding lurus dengan pengorbanan yang dilakukan. Soya cuma ngelakuin hal itu kok. Soya cuma bekerja lebih lama dari orang lain di kantor ini, makanya Soya bisa dapat posisi ini sekarang."

"Lagian Pak, Soya tetep Salat kok walau sering telat, tetep puasa, tetep zakat. Apalagi? Soya tetep inget kok kalau Tuhan itu ada."

"Tapi nak, coba lihat diri kamu sekarang. Jilbab kamu lepas. Sama tetangga gak ramah. Gak sungkan-sungkan menghalalkan segala cara untuk dapatin yang kamu mau…"

"Pak! Kok masalah itu diungkit-ungkit lagi! Sudah lama. Itu cuma bentuk pengorbanan Soya supaya bisa dapat pekerjaan ini. Lagian cuma pakaian kok, Pak! Apa gunanya kalo ketutup tapi hatinya busuk! Banyak kok yang begitu di sekitar Soya…bla…bla…bla…"

Astaghfirullah! Itukah yang namanya pengorbanan?

Menggapai impian itu memang butuh pengorbanan.

Tapi, membuang perintah-Nya dengan alasan pengorbanan untuk hal yang fana. Lantas menghujat saudara sendiri sebagai pembenaran. Bukan pengorbanan itu namanya. Tapi kesombongan.

Kalau yang "ketutup" itu busuk, bantu dong supaya wangi! Jangan malah "dibuka", nyebar kemana-mana baunya nanti. Malah mencemari wangi-wangi yang lain! Lagian, emangnya bungkus tape?!

Ah, esmosi gw jadinya!

Ronde I

Saturday, December 9th, 2006

Nah, Ronde I.

20 tahun pertama hidupku.

Entah kenapa batas usia "sakral" bagiku itu 20, bukan 17.

Menjelang 20 itu, aku teringat jejak masa silam. Dalam (hampir) 20 tahun ini, rasanya aku hanya berarti bagi sendiri. Semua usaha, toh ujung-ujungnya juga nyangkut kepentingan pribadi berjudul kepuasan.

Dari jaman TK, SD, SMP, sampai SMA lempeng-lempeng saja. Masalah terberat paling… apa yah? Sekolah? Gak juga. Keluarga ? Mmm, gak lah kayaknya.

Untuk 17 tahun pertama hidupku,aku bersyukur pada-Mu ya Allah.

Oya, pernah satu kali sewaktu kelas 2 SMA aku sempat "mogok". Rasanya saat itulah pertama kalinya kukenal kata mumet alias stress ^_^. Selanjutnya, yah… paling mumet gara-gara ujian. Jadi inget masa-masa kelas 3 dulu….^_^

Untuk masa 3 tahun itu yang indah itu, aku bersyukur pada-Mu ya Allah.

Satu lagi, aku pertama kali kena cinlok di SMP. Tapi menjadi-jadi pas SMA juga. Biasalah, cerita usang. Yang kalo diingat-ingat lagi bikin nyengir sendiri.

Untuk cerita usang yang berlangsung bertahun-tahun itu, aku bersyukur pada-Mu ya Allah.

Selepas SMA, baru terasa apa itu kegagalan berujung kekecawaan. Yah…gara-gara gak lulus SPMB pilihan I aku sempat "mogok" lagi. Tak tanggung-tanggung, 1 tahun. Jadinya, kehidupan awal kuliah yang carut-marut. Dampaknya masih terasa saat ini.

Untuk 1 tahun carut-marut itu, aku bersyukur pada-Mu ya Allah.

Sekarang, tahun ketiga. Periode tanggung, yang labil sekaligus tersulit. Tapi, bukankah aku punya tanggungjawab pada orangtua ?

Untuk segera menyelesaikan masa ini.

Untuk membawa hasil yang baik.

Untuk bekal membahagiakan mereka di hari nanti.

Untuk bekalku mengabdi pada khalayak nanti.

Mudah-mudahan bisa kulaksanakan, atas seijin-Mu. Amin.

Untuk kesadaran ini,

Untuk semua nikmat-Mu,

Untuk masa-masa terbaik dalam hidupku,

Untuk orang-orang yang kusayang dan menyayangiku

Untuk orang-orang yang telah berjasa dalam hidupku,

Untuk mereka yang telah remuk-redamkan hatiku sekaligus membentuknya jadi lebih tegar,

Untuk mereka yang telah memberi warna hidupku,

Untuk keluarga bahagia yang telah Kau berikan padaku,

Untuk teman-teman terbaik dalam hidupku,

Untuk semuanya,

Untuk 20 tahun hidupku,

Aku bersyukur pada-Mu ya Allah. Terimakasih.

Mukadimah

Saturday, December 9th, 2006

Bisa tidak hidup itu diibaratkan perjalanan?

Bisa.

Oke.

Hidup itu perjalanan. Berangkat dari titik nol menuju muara, akhirat.

Berawal atas kehendak-Nya. Berakhir pun atas kehendak-Nya.

Nah, metode manusia untuk menjalankan hidupnya berbeda-beda. Tergantung apa yang dipahaminya tentang tujuan hidup.

Oke. Sekarang kita ngomongin apa pendapatku tentang hidup.

Tertarik?

Bagiku, hidup itu ya …. proses menuju kampung akhirat, muaranya ke kebahagiaan abadi, atau penyiksaan sepanjang masa.

Dalam menjalaninya, yah… tak cuma kepentingan akhir itu saja yang harus diperhatikan, tapi juga duniawi, tempat dimana aku tinggal saat ini.

Tapi, dalam menjalani duniawi ini, sebenarnya itu juga ibadah menurutku. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup itu ibadah. Menuntut ilmu, dunia apalagi agama, sebagai "bekal" juga ibadah.

Intinya, jalani hidup sebagai ibadah.

Punya pijakan,landasan kuat, yaitu agama, agar tak tersesat.